Seekor Gajah Mati Dalam Kawasan HPT di Bengkulu, Diduga Ditembak

- Wartawan

Sabtu, 6 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gajah mati di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu (dok: Komunitas Bentang Alam Sebelat)

Gajah mati di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu (dok: Komunitas Bentang Alam Sebelat)

Sumutterkini.com, BENGKULU – Satu ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar berjenis kelamin betina (Indukan dewasa berumur 20 tahun) ditemukan mati, Minggu (31/12/2023) pukul 11.47 WIB.

Gajah malang tersebut mati dengan posisi tertelungkup. Lokasi ditemukan bangkai gajah ini tak jauh dari jalan log dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Air Ipuh 1 register 65, sekitar 3,5 kilometer dari batas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari membenarkan temuan itu. Namun, pihaknya tidak mengetahui secara pasti apa penyebab kematian hewan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tidak diketahui penyebab pasti kematian gajah tersebut,” kata Said, Sabtu (6/1/2024) dikutip dari Kompas.com.

Anggota Konsorsium Bentang Alam Seblat Egi Saputra menyebutkan, ditemukannya bangkai gajah berada di kawasan hutan negara yang dibebani Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) atas nama PT Bentara Arga Timber (BAT) melalui Surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SK 529 tahun 2021 dengan luas konsesi 22.020 hektar.

Jenis usaha pemanfaatan hutan untuk kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam.

“Secara spesifik dari total luasan konsesi PT BAT, wilayah yang masih dapat disebut hutan hanya 13.968,50 hektar, sisanya sudah habis dikonversi menjadi belukar dan kebun sawit. Konsorsium Bentang Alam Seblat mencatat setidaknya ada 3.485,16 hektar telah berubah menjadi semak belukar dan ada ratusan titik sebaran kebun sawit dengan total luas lebih dari 4.566,34 hektar dalam konsesi yang pada tahun 2021 lalu juga ditemukan bangkai gajah,” sebut Egi, dalam rilis tertulisnya.

Berdasarkan analisis Konsorsium Bentang Alam Seblat (KBS) periode 2023, dari 80.978 hektare total luas kawasan Bentang Alam Seblat, tutupan hutannya hanya sebesar 49.700 hektar (61,5 persen), dan sisanya 31.100 hektar (38,5 persen) tidak berhutan.

Baca Juga  Spesifikasi Suzuki Jimny 5-Pintu yang Segera Meluncur di Indonesia

Egi Saputra yang juga Direktur Eksekutif Genesis, menyebutkan, bahwa wilayah gajah mati yang hilang caling tersebut berada di areal RKT (Rencana Kerja Tahunan) PT BAT. Gajah tersebut diperkirakan terdesak akibat maraknya perambahan dan penebangan.

Hal ini dibuktikan dengan lokasi temuan gajah mati tersebut tidak berada di jalur konektivitas. Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia sekaligus Penanggungjawab Konsorsium Bentang Seblat menyatakan, kondisi tutupan lahan di Bentang Alam Seblat ini menunjukkan tidak seriusnya pemerintah dan pihak perusahaan dalam mengamankan kawasan hutan.

Hal itu dibuktikan dengan tingginya aktivitas perambahan dan penguasaan hutan di Bentang Alam Seblat. Di Bentang Alam Seblat, lahan tak berhutan itu didominasi oleh perkebunan sawit seluas 15.000 hektar (48,1 persen), kemudian semak belukar 7.900 hektar (25,6 persen), perkebunan perusahaan 5.400 hektar (17,5 persen), dan lahan terbuka 2.000 hektare (6,6 persen).

Dilihat dari data analisis periode 2020-2023, tutupan hutan Bentang Alam Seblat telah hilang seluas 8.800 hekar. Tutupan lahan sekunder menjadi yang paling besar, seluas 8.800 hektar.

Di mana 5.600 hektar (64,5 persen) dirambah menjadi lahan pertanian sawit.

“Atas kejadian ini, KBS menyatakan bahwa negara harus membuka informasi secara lengkap atas kondisi hutan dan segera melakukan penindakan terhadap kejahatan satwa gajah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus melakukan tindakan untuk memastikan tidak terjadi lagi kematian gajah non alami, apalagi kematian gajah yang sekarang terindikasi dibunuh. Pada tengkorak bangkai gajah terdapat lubang, diduga akibat tembakan peluru senjata api. Lubang sebesar kurang lebih 1,5 cm itu tembus dari bagian bawah rahang sampai ke os frontalis (tengkorak bagian depan atau dahi),” demikian Ali Akbar. (rsy/sumutterkini.com)

 

Berita Terkait

Komisi VIII DPR Minta Konten Tukar Pasangan Gus Samsudin Ditarik dari Kanal Publik
Peristiwa Pergerakan Tanah di Bandung Barat Rusak Rumah Hingga Gedung Sekolah
Kapolda Sumut Pastikan Hari Pertama F1 Powerboat Aman Lancar dan Pengunjung Antusias
Bagaimana Peluang Kursi DPR dan Caleg di Dapil Sumut I?
Polres Sergai Tindak Tegas Aktivitas Penyedotan Pasir Ilegal di Desa Sei Belutu
Banjir Kabupaten Cilacap Berangsur Surut, 450 Warga Kembali ke Rumah
MA Tolak Kasasi, Mario Dandy Tetap Dihukum 12 Tahun Penjara
Mayat Perempuan Terbungkus Selimut di Banjar Ditemukan dengan Kondisi Kedua Tangan Terikat

Berita Terkait

Minggu, 3 Maret 2024 - 10:40 WIB

Komisi VIII DPR Minta Konten Tukar Pasangan Gus Samsudin Ditarik dari Kanal Publik

Minggu, 3 Maret 2024 - 09:41 WIB

Peristiwa Pergerakan Tanah di Bandung Barat Rusak Rumah Hingga Gedung Sekolah

Sabtu, 2 Maret 2024 - 23:13 WIB

Kapolda Sumut Pastikan Hari Pertama F1 Powerboat Aman Lancar dan Pengunjung Antusias

Sabtu, 2 Maret 2024 - 20:37 WIB

Bagaimana Peluang Kursi DPR dan Caleg di Dapil Sumut I?

Sabtu, 2 Maret 2024 - 19:21 WIB

Polres Sergai Tindak Tegas Aktivitas Penyedotan Pasir Ilegal di Desa Sei Belutu

Sabtu, 2 Maret 2024 - 15:14 WIB

Banjir Kabupaten Cilacap Berangsur Surut, 450 Warga Kembali ke Rumah

Sabtu, 2 Maret 2024 - 13:07 WIB

MA Tolak Kasasi, Mario Dandy Tetap Dihukum 12 Tahun Penjara

Sabtu, 2 Maret 2024 - 12:33 WIB

Mayat Perempuan Terbungkus Selimut di Banjar Ditemukan dengan Kondisi Kedua Tangan Terikat

Berita Terbaru

Ketua MPR Dorong Notaris untuk Terapkan Cyber Notary. (Foto: istimewa)

Teknologi

Ketua MPR Dorong Notaris untuk Terapkan Cyber Notary

Minggu, 3 Mar 2024 - 09:55 WIB