Senyum Renta, Bahagia Pintanya

oleh
Puisi untuk kek Usman (Nda)

Tak pernah lelah dia berjalan menyusuri aspal panas, dan teriknya matahari..
Kerutan diwajahnya menandakan dirinya sudah renta dan harus bahagia..
Jiwa semangat yang dimiliki, modal tetap mencari sesuap nasi..

Dalam benak, aku berkata..
Setua ini sudah seharusnya dia menikmati masa tuanya..
Bahagia dimasa masa rentanya..

Tapi, di wajah lelahnya entah mengapa aku melihat binar-binar kepasrahan..
Terik kemilau matahari tak menyurutkan langkahnya, terus mengais rezeky berkah..

Dalam sapaan, aku pun bertanya..
Haruskah kakek terus bekerja?

“Ada perut yang harus diisini nak,” lembut suaranya.

Ada perasan sakit disini.. Dihatiku..
Melihat pak tua tetap ikhlas menjalani hidupnya..
Sementara aku?
Aku masih saja suka berkeluh kesah..

Dia tetap bisa menggagahi derita yang hadir dalam hidupnya tanpa mengeluh..
Kulihat pancaran sinar matanya, ada setulus cinta untuk istrinya..

Akan kusulam sepotong doa untukmu..
Untuk sang kakek penjual balon..
Semoga bahagia berkah kisahmu..
Ku simpan dalam lamunan..

-mata.air_syahdu-

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *